Pemutaran perdana di Surabaya: Aladin, Merangkai Ratna Asmara, Dr Samsi
Sabtu, 30 Mei 2026, 13.00 – 21.00
Makan malam, minuman dan kudapan disediakan. Peserta tidak wajib mengikuti seluruh kegiatan dari jam 13.00 – 21.00, tapi mohon untuk menjaga kondusifitas pemutaran maupun diskusi jika perlu keluar-masuk.
Bersama:
– Lisabona Rahman
– Efi S. Handayani
Moderator: Veronica Ajeng
Kontribusi:
– Rp 50.000 untuk umum
– Rp 45.000 untuk anggota C2O atau SINDIKASI
Kelindan Gender & Identitas Pekerja di Tepian Sejarah Industri Kreatif
Tahun 1950an menjadi era dimulainya industri perfilman di Indonesia. Darah dan Doa karya Usmar Ismail ditahbiskan menjadi film nasional pertama Indonesia, yang dibuat dan diperankan oleh orang Indonesia. Bahkan hari pertama pengambilan gambar film tersebut dijadikan sebagai Hari Film Nasional, 30 Maret 1950.
Di tahun yang sama Ratna Asmara, menyutradarai film pertamanya, Sedap Malam (1951) tentang seorang penyintas jebakan menjadi jugun ianfu. Tahun-tahun di mana cerita-cerita yang bertema kemerdakaan dan militeristik serta dibuat oleh sutradara laki-laki masih mendominasi industri perfilman saat itu. Ratna yang lebih dikenal sebagai aktris dan selalu dilekatkan dengan Andjar Asmara — suaminya saat itu — mencoba merebut ruang dengan hadir sebagai sutradara perempuan, pertama. Lewat karya pertamanya Ratna mencoba menghadirkan kisah perempuan korban kebiadaban Jepang. Sebuah cerita yang tidak populer di tengah narasi nasionalisme.
Saat ini film ketiganya, Dr. Samsi (1952), sementara ini adalah satu-satunya yang masih dapat ditemukan. Berkisah tentang seorang ibu yang berpisah dengan anaknya, oleh Ratna alur cerita Dr. Samsi yang ditulis oleh mantan suaminya Andjar Asmara diubah menjadi cerita yang didominasi oleh sosok Ibu. Pada masanya Ratna sudah terlihat sangat progresif dengan berani tampil sebagai perempuan yang membuat film. Saat itu jumlahnya masih terbilang sedikit. Mirisnya kondisi tersebut masih ada hingga hari ini.
Ketimpangan yang terjadi pada industri film saat itu tidak terjadi kepada minoritas gender saja, seperti yang dialami Ratna. Kelompok minoritas lainnya seperti Tan Sing Hwat, seorang sutradara keturunan Tionghoa. Hadir di tengah gempuran film nasionalis, karyanya yang berjudul Aladin yang diadaptasi dari kisah 1001 malam, menampilkan kritik sosial dari sudut pandang rakyat kelas bawah.
Antara Ratna Asmara dan Tan Sing Hwat memiliki benang merah yang sama. Datang dari kelompok minoritas, peran mereka tersingkir ke tepian sejarah industri perfilman yang masih didominasi oleh kanon. Mengingat dengan menonton dan membahas karya mereka adalah langkah untuk membongkar kanon sejarah dengan kritis dan mempertanyakan peminggiran yang terjadi berdekade lamanya.
Aladin (Tan Sing Hwat, 1953)
Merangkai Ratna Asmara (Ersya Ruswandono, 2022)
Dr Samsi (Ratna Asmara, 1952)
Profil pembicara dan moderator
Lisabona Rahman
bekerja untuk pelestarian dan pembuatan progam film. Dasar kerjanya merupakan irisan antara praktik dan sejarah film dalam masyarakat pascakolonial, jaringan transnasional, dan kerja perempuan. Ia mulai membuat program film pada tahun 2006 di bioskop kineforum Dewan Kesenian Jakarta. Lisabona kemudian bekerja dan mendapat dukungan dari berbagai dan institusi di Asia, Afrika dan Eropa seperti Arsenal Institute - Berlin, Cimatheque Alternative Film Centre - Cairo, EYE Filmmuseum - Amsterdam, Thai Film Archive (Public Organization) - Bangkok, dan Rubanah Underground Hub - Jakarta. Sejak April 2025 bekerja sebagai Training and Outreach Coordinator Federasi Arsip Film Internasional (FIAF). Ia juga aktif bekerja kolektif menciptakan ruang belajar dan acara untuk para feminis di Nusantara melalui Sekolah Pemikiran Perempuan dan Kelas Liarsip.
Efi Sri Handayani
adalah seorang perempuan aktivis yang memiliki ketertarikan dengan seni dan pelestarian film. Efi juga bagian dari PurpleCode Collective, sebuah kolektif yang bekerja di isu interseksional gender, hak asasi manusia dan teknologi. Pernah bekerja sebagai arsiparis di Yayasan Pusat Film Indonesia. Pada Mei 2021 mendirikan Kelas Liarsip bersama Julita Pratiwi. Saat ini menjadi arsiparis lepas dan sedang menjalankan kerja-kerja pengarsipan dan penelusuran karya perempuan dalam sinema Indonesia bersama Kelas Liarsip.
Veronica Ajeng
berbasis di Sidoarjo, sehari-hari jadi buruh desain lepasan yang mengeksplorasi kerajinan lokal seperti perhiasan, tekstil, dan pewarna berbasis tumbuhan. Di waktu luang--dengan sisa-sisa energi dan bandwidth di kepala--suka menikmati acara-acara seperti nobar film untuk rekreasi dan mengisi imajinasi. Aktif di SINDIKASI (Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi) wilayah Jawa Timur, dengan ketertarikan khusus pada persilangan antara praktik desain, (tenaga)kerja, dan pengorganisasian kolektif.