Judul | Bahasa | Th terbit | Penulis, editor, kontributor | Penerbit | Files & media | Tautan | Deskripsi | Tag | Koleksi |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Bahasa Indonesia | 2025 | Buku ini menggarisbawahi resiliensi sebagai penanda atas represi struktural dan mengakar yang dialami pekerja seni ragam gender karena absennya kebijakan yang melindungi mereka. Bagaimana kerja seni menubuh dalam keseharian dan dijadikan cara untuk menghidupi komunitas dalam solidaritas lintas generasi dan kelas. | |||||||
Bahasa IndonesiaEnglish | 2024 [1997] | membahas dampak dari proses industrialisasi secara masif yang terjadi di Indonesia sejak akhir 1960-an. Proses ini memfasilitasi lahirnya kelas pekerja industrial yang baru. Buku ini menawarkan perspektif teoretiknya–terinspirasi oleh pendekatan materialisme historis–untuk memahami kesempatan dan limitasi yang dimiliki oleh pengorganisasian buruh. Melalui model komparatif, buku ini berargumen bahwa gerakan buruh di Indonesia menghadapi tantangan lebih besar, dibanding dengan gerakan buruh yang lahir di negara-negara yang mengalami proses industrialisasi yang lebih awal. | |||||||
Bahasa Indonesia | 2024 | Menawarkan ‘tinjauan awal’ terhadap relasi kelas pekerja dan kapital di berbagai sektor ekonomi Indonesia. Berbagai ilustrasi relasi kelas pekerja dan kapital pada buku ini sedikit banyak menyingkap bentuk-bentuk pengontrolan kapital dan perlawanan pekerja yang menyertainya. Sebagai suatu ‘tinjauan awal’ terhadap relasi kelas pekerja dan kapital di Indonesia, buku ini diharapkan mampu menyediakan ilham, seberapa pun kecilnya, bagi studi-studi yang lebih menyeluruh di kemudian hari. | |||||||
Bahasa Indonesia | 2024 | Tahun-tahun 1945-1948 bukan hanya menandai puncak dari masa revolusi Indonesia, tetapi juga menjadi masa awal pembentukan hubungan antara kaum buruh dengan negara Indonesia modern yang baru merdeka. Menimba dari banyak ragam sumber sejarah, Jafar Suryomenggolo merekonstruksi dorongan awal kaum buruh dalam membentuk dan memberi orientasi bagi serikat-serikat mereka selama periode genting tersebut. | |||||||
Bahasa Indonesia | 2024 | ||||||||
Bahasa Indonesia | 2023 | Pegangan bagi para pekerja untuk mempersenjatai diri dengan kesadaran dan pengetahuan atas hak-haknya serta cara menghadapi pelanggaran di tengah masifnya praktik jahat penghilangan hak dan eksploitasi pekerja. | |||||||
Bahasa Indonesia | 2022 | ||||||||
Bahasa Indonesia | 2022 | Panduan dari SINDIKASI untuk memastikan pekerja lepas di industri media ataupun kreatif mendapatkan jaminan sosial sesuai ketentuan yang telah ditetapkan undang-undang di tengah tantangan yang meningkatkan kerentanan mereka di pasar tenaga kerja. | |||||||
Bahasa IndonesiaEnglish | 2021 | Saat kita menyaksikan perluasan hubungan kapitalis ke seluruh dunia, upaya untuk memikirkan ulang pemikiran feminis terhadap karya Karl Marx menjadi sangat penting. Di buku Patriarki dalam Pengupahan, Silvia Federici mempertanyakan mengapa analisis Marx mengenai eksploitasi pekerja cenderung mengabaikan kerja dan perjuangan perempuan dalam bidang reproduksi sosial. Federici dalam buku ini mengkritik pemikiran Marx yang mengabaikan kerja-kerja perempuan di rumah tanggaᅳmencuci, memasak, bersih-bersih, melahirkan anak, kerja perawatan, dan yang lainᅳyang cenderung tidak dibayar, padahal kerja di ranah produksi tak akan berjalan tanpa kerja-kerja reproduksi. Pada konteks ini, buku Patriarki dalam Pengupahan tidak sekadar mengkritisi ketimpangan upah antara perempuan dan laki-laki di tempat kerja, tetapi juga tentang eksploitasi terhadap perempuan di rumah tangga. Selain itu, Patriarki dalam Pengupahantidak hanya mendefinisikan ulang Marxisme klasik, ini adalah seruan untuk membentuk politik radikal baru yang memasukan kerja-kerja reproduksi perempuan sebagai hal penting dalam perjuangan dan dalam sosialisme. | |||||||
Bahasa Indonesia | 2021 | Dokumen riset ini merupakan rangkaian kontribusi SINDIKASI dalam melahirkan narasi tanding dalam industri media dan kreatif, khususnya aspek perburuhan. | |||||||
Bahasa Indonesia | 2019 | Buku ini menyajikan pedoman bagi pekerja untuk membuat kontrak kerja dengan hubungan freelance. Dalam menyusun acuan kontrak kerja freelancer, Sindikasi menggandeng LBH Pers. | |||||||
English | 2019 | Between 2009 and 2015, sections of Indonesia’s nascent trade union movement attempted to enter the political fray. Many political and trade union activists hoped that an independent workers’ party could emerge. These hopes floundered, and key trade union leaders instead ran for political office with existing parties, even endorsing authoritarian and anti-human rights policies. Max Lane presents a sobering assessment of these trends, largely focusing on comparatively strong areas of trade union organisation among the industrial belt on the outskirts of Jakarta. Trade union coverage in Indonesia is a mere 3 percent of the labour force, or 5 million members. This low union density is a product of both political and historical factors. The independence struggle against Dutch colonisers had resulted in a strong influence of radical nationalism and the left in Indonesia before 1965. Then President Sukarno’s attempts to allow the Indonesian Communist Party into government resulted in a pre-emptive wave of repression and mass killings by the army and Islamist organisations. These effectively destroyed the left and ended Sukarno’s rule. The subsequent “New Order” dictatorship of President Haji Mohamed Suharto and his GOLKAR party (Partai Golongan Karya [Party of Functional Groups]) lasted until 1998. | |||||||
English | 1998 | Pierre Bourdieu speaks out against the new myths of our time - especially those associated with neo-liberalism - and offers a passionate defence of the public interest. The withdrawal of the state from many areas of social life in recent years - housing, health, social services, etc. - has produced growing despair in the most deprived sections of the population; the dismantling of public welfare in the name of private enterprise, flexible markets and global competitiveness is increasing the misery of those who have suffered most. | |||||||
Bahasa Indonesia | 1975 | Dekade awal abad 20 merupakan saat-saat paling menderitakan bagi kaum buruh Indonesia (saat itu Hindia Belanda). Perang Dunia I , yang mengubah peta peta perpolitikan dunia, meletus. Krisis ekonomi terjadi. Harga kebutuhan pangan melonjak tanpa kenaikan upah, PHK masal; adalah serangkaian penyebab berdirinya serikat dan dan timbulnya gerakan-gerakan buruh di Indonesia. SK. Trimurti, yang juga terlibat di tengah riuh gerakan tersebut, mencatat dengan jeli bagaimana gerakan revolusioner ini berjalan beriringan dengan perjuangan kemerdekaan nasional. Membaca buku ini, yang merupakan naskah ceramahnya pada 11 Mei 1975 di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta, kita akan melihat bagaimana kaum buruh belajar berserikat, membina diri, berpolitik, hingga mendorong terciptanya gagasan untuk menjadi sebuah bangsa yang berdaulat darp merdeka. |